Senin, November 08, 2010

Gunung Ciremai


kawah kembar di Puncak Gunung Ciremai

Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Provinsi Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl. Secara administratif masuk dalam 3 wilayah kabupaten : Kabupaten Majalengka, Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Cirebon. Puncaknya terletak pada 6° 53' 30" LS dan 108° 24' 00" BT.

Untuk menuju Puncak Gunung Ciremai, terdapat 3 buah jalur pendakian, yaitu : Jalur Apuy (Kab. Majalengka), Jalur Palutungan (Kab. Kuningan) dan Jalur Linggarjati (Kab. Cirebon). Masing-masing jalur memiliki tantangan dan keunikan tersendiri. Gunung Ciremai masuk dalam kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC), yang memiliki luas wilayahnya hingga 15.000 hektar.


Dan Saya mencoba mendaki Gunung Ciremai melewati Jalur Apuy, Majalengka.

Ini adalah pendakian tergila yang pernah saya alami. Benar-benar gila!

Saat itu, hati Saya selalu berkata "Ciremai! Ciremai! Ciremai!"
Oke, harus jadi! Walau memang waktu saya tak banyak, sedang padat Ujian Tengah Semester. Penderitaan bertambah, harus menerima kenyataan dengan tidak ada seorang sahabat saya yang dengan kebetulan waktunya pas untuk menemani rencana saya mendaki Gunung Ciremai. Well, saya sudah menghubungi dan mengajak semuanya. Hanya seorang teman wanita yang belum lama kenal, ia mau menemani saya. Tapi nampak begitu riskan, ia belum pernah mendaki gunung, hanya bermodalkan "ingin menemani saya". Dengan lapang dada, saya pun harus menunda keinginan saya ini, menjejaki tanah tertinggi Jawa Barat.


Jumat, 28 November 2008

Ketika akan menarik selimut untuk mengarungi malam saya, Hand Phone saya bunyi, tanda sebuah sms masuk.

From : Turtle Eenk
"Sob, ke Ciremai berangkat kapan? Kayaknya saya bisa menemani Anda, Saya sedang butuh hiburan, tapi Saya ga ada alat2nya. Gimana?"

Membaca sms itu saya tersenyum, lalu kami terlibat perpanjangan sms-an.

To : Turtle Eenk
"Gampang masalah alat saya siapkan, berangkat bebas, mau besok? lusa? secepatnya saja."

From : Turtle Eenk
"Deal, berangkat besok, kita weekend. Cuma kompres masalah waktunya. Besok saya ke Bandung sorem janjian di Kampus Anda."

To : Turtle Eenk
"Sipp. Laksanakan! Eh, tapi Anda yakin nih kita berdua saja?"

From : Turtle Eenk
"Kalo bertiga nanti ditilang!"

:D :D :D :D


Sabtu, 29 November 2008

Pukul 14.15 wib kami berdua bertemu di Kampus saya, saya sudah siap dengan perlengkapan dan peralatan di packing dalam satu buah carriel full, Eenk dengan satu buah daypack-nya. Setelah briefing mengenai rencana pendakian, kemudian kami berangkat menuju Majalengka. Kami akan menemui Esa, sahabat saya di Kampus. Esa tinggal di Majalengka, ia sudah pernah mendaki Gunung Ciremai, dan ia akan mengantarkan kami berdua hingga kaki Gunung Ciremai, Desa Apuy. Kami berangkat menggunakan Sepeda Motor.

Setiba di Majalengka, kami dijemput Esa, lalu mampir sebentar ke rumahnya untuk beristirahat sejenak sembari memilah-milah barang yang akan dibawa dan disimpan di rumah Esa. Kami menyimpan Tenda Dome, beberapa baju ganti, kami membawa 2 buah Sleeping Bag, 4 buah senter, 2 buah Ponco satu buah kompor gas (tabung gasnya akan kami beli di Pasar Majalengka sekalian membeli logistik dan beberapa batu batre.

Masih di rumah Esa, datanglah saudara Esa (lupa saya namanya), yang dipinta oleh Esa untuk mengantarkan kami ke Desa Apuy. Saya akan satu motor dengan Esa, dan Eenk bersama saudaranya Esa. Setelah selesai packing, kami pun berangkat ke Pasar Majalengka, sekalian jalan ke Desa Apuy. Kami membeli banyak perbekalan makanan dan rokok. Tapi sial, tabung gas tidak ada! Well, pendakian ga boleh mundur, kami maju terus! Kami tenang karena membawa perbekalan yang siap saji seperti roti. "Kita ga bisa ngopi donk?" keluh Eenk.

perjalanan kami menuju Desa Apuy

Kami berempat tiba di Desa Apuy beberapa saat setelah Magrib. Setelah mengurus perizinan dan melaksanakan Shalat Magrib, Saya dan Eenk mulai melakukan pendakian, sementara Esa dan saudaranya pulang. Medan dimulai dari hamparan perkebunan penduduk, cuaca sungguh bersahabat, ditemani taburan bintang dan cahaya bulan. Romantis.. :p

Pos 1 kami beristirahat, sambil mencari jalur pendakian yang rumit karena bercampur dengan jalur perkebunan. Kami sempat kacau. "Sial, Saya kira Anda sudah pernah kesini. Konyol juga kita naik malem tanpa kenal jalur." seru Eenk. Saya pun hanya membalas dengan senyuman. Saya mengerti perasaan Eenk dan kenal benar siapa itu Eenk. Ia memang tidak biasa mendaki gunung, pengalaman ia hanya mendaki Gunung Tampomas dan Gunung Bukit Tunggul ketika kami SMA. Tapi disatu sisi ia memiliki mental yang tangguh, loyalitas tinggi dan ia adalah sahabat terbaik saya. Tidak ada masalah.

Setelah kepayahan akan jalur pendakian, sejam setelah itu barulah kami mulai memasuki jalur, namun yang saya lewati adalah jalur Lama dari Pos 1. Jalurnya sudah mulai rimbun karena jarang dilewati oleh para pendaki. Namun perjalanan kami belum tenang, kami belum yakin tentang jalur yang yang dilalui. Ditambah ketika mulai memasuki rimba Gunung Ciremai, mendadak 3 dari 4 senter yang kami bawa tidak berfungsi, Astaghfirulloh, padahal sudah kami cek ketika di Rumah Esa, mental kami turun, cahaya bulan tidak dapat menerangi perjalanan kami, dihalangi rapatnya hutan rimba.

Kami pun memaksakan untuk terus mendaki dengan hanya menggunakan satu buah senter. "Pos 2, Sob! Lanjut!" seru Eenk. Mendadak semangat itu hadir kembali, kami berada dalam jalur yang benar. Kami mulai sangat tenang. Antara Pos 2 dan Pos 3, kami beristirahat. Perjalanan tetap stabil, tidak ada hambatan dari fisik kami, sunyinya dalam rimba raya Gunung Ciremai, kami semakin mendekati Puncak dan menjauhi perkampungan warga. Perjalanan kami sungguh luar biasa, banyak kejadian alam yang mengerenyutkan keberanian, mulai dari anjing hutan yang mendekati kami hingga hal-hal misterius.

Gunung Ciremai memang dikenal sebangai gunung paling 'berat' ditanah jawa, banyak kejadian misterius terjadi. Mulai dari penemuan Mayat Berkepala Tengkorak Ditemukan di Gunung Ciremai, kisah Gunung Ciremai yang selalu minta korban, tak sedikit para pendaki yang meninggal dan hilang disini. Banyak pula kisah misteri lainnya yang terkenal di penduduk setempat dan para pendaki, Misteri Jalak Hitam, Misteri Manusia tanpa kepala sambil menenteng kepala harimau, dan masih banyak lagi kasih lainnya yang membuat merinding. Untuk pantangannya, di Gunung Ciremai tidak boleh sompral, tidak boleh mengeluh, tidak boleh kencing sembarangan, harus mengucapkan salam ketika memasuki pos ke pos, tidak boleh berkata "hujan" dan binatang ternak seperti sapi dan kambing. Benar-benar sebuah Gunung yang Istimewa. Ketinggiannya hanya 3.078 mdpl, namun petualangan di dalamnya sungguh menakjubkan, kekuatan fisik hanya dibutuhkan beberapa persen saja, ketangguhan mental yang akan digembleng oleh Alam Gunung Ciremai.

Sadar akan perjalanan semakin mengendur, kami pun sering sekali beristirahat, sampai pada suatu waktu kami beristirahat diantara Pos 4 dan Pos 5. Kami duduk dan meluruskan kaki, sambil memakan cemilan dan membasahi tenggorokan, serta tidak ketinggalan sebatang rokok. Saya sadar, mental saya kendur, dan saya pun tau Eenk merasakan hal yang sama, kengerian perjalanan malam ini semakin mendekati puncak semakin turun. Kami beristirahat di jalur pendakian yang sempit, di antara rapatnya hutan, namun disebelah kanan kami itu adalah turunan curam, sebuah lemah. Batang demi batang rokok kami bakar, melawan dinginnya udara, hanya satu buah cahaya dari senter yang dipegang Eenk yang menerangi kami. Saya pun mulai membuka carriel, mengeluarkan ponco untuk menutupi kaki saya yang kedinginan. Tanpa sadar kami pun mulai tiduran di tengah jalur yang sempit itu, daypack Eenk manjadi bantal kepala kami, satu buah ponco menjadi selimut kami, alas tidur kami langsung mengenai tanah, kami semakin merapat, kami semakin sunyi.


..Gelap..

"Ya Tuhan, lindungi perjalan Kami ini, sungguh kami begitu merasa kecil di Alam Raya ini, kami tak berdaya."

..Kami Tertidur..


Minggu, 30 November 2008

Sedikit demi sedikit
mata saya terbuka, ternyata masih malam, sebenarnya dalam tidur saya mengharapkan akan terbangun dengan kondisi sudah terang. Asli, saya bangun berbarengan dengan Eenk bangun. Kami saling menatap, kami tersenyum. Kondisi badan kami drastis membaik, semangat kami kembali berkobar. "Lanjutkan kawan, Puncak menunggu kita!"

Tak lama berjalan, langkah kami sempat terhenti, melihat secarik cahaya berwarna merah, namun tipis. Kami tau ini hampir pagi, perjalanan kami dilanjutkan, dengan langkah kaki penuh semangat, kami tak ingin melewatkan menikmati sunrise di puncak Gunung Ciremai atau setidaknya dapat melihat sunrise di tempat terbuka, sungguh akan indah. Hanya beberapa langkah kami sampai di Pos 5, sebuah tempat yang cukup luas untuk mendirikan beberapa tenda. Pepohonan sudah semakin kecil, memasuki tanaman perdu, bentangan langit sudah semakin terlihat, tanda semakin mendekati Puncak. Kami terus berjalan, tidak ingin membuang banyak waktu untuk berdiam.

Alhamdulillah, kami dapat menikmati sunrise di dekat In Memoriam "Nurdiyanto Bin Rosidi, tempat terbuka, medan hanya bebatuan diselingi tanaman edelweiss. Sungguh indah. Namun, keindahan sunrise ini tidak dapat diabadikan, kami tidak membawa kamera, hanya kamera dari handphone itu pun terbatas karena baterainya sudah low. Kami mengabadikan beberapa foto di ketika di Puncak dan ketika di tempat kami melihat sunrise. Kami pun beristirahat kembali di sekitar Gua Walet, (antara Pos 5 dengan Puncak). Pukul 07.00 kami tiba di Puncak Gunung Ciremai.




tampak Gunung Slamet dari Puncak Gunung Ciremai

Kini kami berada di Puncak tertinggi Jawa Barat. Sungguh sebuah kemenangan pribadi kami. Sebuah kepuasan. Sebuah petualang yang kami ciptakan dengan cara kami sendiri. Cuaca yang sangat bersahabat, cerah hingga dapat terlihat Gunung Slamet di sebelah timur. Hamparan awan putih berada di bawah kami. Melihat kawah kembar Ciremai. Lelah kami hilang begitu saja. Pagi itu, Gunung Ciremai terasa milik kami, tak ada bertemu satu pun orang mendaki. Pagi itu, kami bersemangat. Pagi itu, kedamaian hati terasa mendalam. Pagi itu, kami menjadi orang tertinggi di Jawa Barat.




Sudah cukup berada di Puncak Gunung Ciremai, kami pun beranjak turun. Cuaca masih sangat bagus, cerah. Dan perlu diketahui, bahwa petualangan besar belum berakhir. Di persimpangan pertigaan jalan antara Jalur Apuy dan Jalur Palutungan, kami malah masuk Jalur Palutungan, ketika itu kami sangat tidak tau. Perjalanan pun menjadi terasa aneh, kondisi medan tak seperti yang ketika dilalui saat naik. Hening.

Ya, kami disadarkan ketika menemui sebuah papan yang menempel di sebuah pohon dengan tulisan "Pos V Pesanggrahan." Damn! Saya tau nama pos itu ada di dalam Jalur Palutungan. Kami pun nyengir, tertawa, dan berkata : "Kalo balik lagi cape, biarin deh, biar kita juga tau Jalur Palutungan." Hhaha..

Lalu cuaca berubah menjadi hujan, cukup besar, membasahi kami hingga Pos perizinan di kaki gunung, Palutungan. Kami bingung bagaimana kami pulang, kami tidak tau jalan, motor saya di rumah Esa, dan uang yang kami pegang tidak sampai Rp50.000. *yawn

Akhirnya kami pun diberitahu oleh tukang ojeg yang mangkal di depan Pos Perizinan Palutungan, kami berencana akan ke rumah Esa. Kami naik ojeg hingga menemuai jalan besar, lalu kami naik sebuah mobil jenis elf hingga Terminal Cikijing. Nah di Cikijing kami gigit jari, uang kami sudah habis.

"Kang, saya mau jual mie instan, rokok, dan snank. kami mau pulang, tidak ada ongkos." :D (konyol)
Untungnya persediaan logistik kami masih tersisa banyak, kami pun menjual semuanya kepada siapa saja yang memerhatikan kami yang penuh lumpur, lusuh, agar mendapat uang untuk ongkos ke Majalengka.
Alhamdulillah, kami mendapatkannya. Kami pun naik sebuah bis hingga depan rumah Esa. Lega rasanya.

Kami baru beres mandi dan beristirahat di rumah Esa sekitar jam 6 sore, kami berencana langsung pulang, tapi ketika itu hujan turun sangat lebat, anginnya pun tak kalah kencang. Kami pun mengurungkan niat untuk pulang, lagian masih capek. kami baru akan pulang besok pagi, kami akan menginap semalam di rumah Esa. Pukul 20.00 wib, kami diajak makan malam oleh Ayahnya Esa, Ayam Goreng! Mantap.

10 komentar:

Ladida mengatakan...

kok ceritanya mengerikan gitu yaa . ,

btw saya suka cerita Anda , pasti tak akan terlupakan . ,

Mr.Kelpo mengatakan...

Wah, artikelnya banyak tentang gunung ya :D

Lulus Sutopo mengatakan...

Wah bravo hoby mendaki nich,..

Story in Indonesian Songs mengatakan...

kisah yang mengasyikkan,lanjut terus gan. ide tulisan tentu juga segunung.Salut buat petualangan sobat nih. salam kenal

Urang Lembur mengatakan...

Salam untuk Petualang Sejati...

gunawan mengatakan...

salam wat pencicta alam jadi kepingin muncak lagi nic,,,serruu kaya nya.....

gunawan mengatakan...

salam untuk pencinta alam...jadi kepingin muncak lagi .....seerruu kaya nya....

heru susanto mengatakan...

bayoe threebowoo ,, wah kampung saya pas banget dikaki gunung ciremai desa seda kecamatan mandirancan kabupaten kuningan ,,, pengalaman yang ga bisa dilupakan loe sobb ,, salam kenalll bisa mendaki gunung ciremai yang banyak mitos misteri nya ,,,

Dessy Permatasari mengatakan...

ceritanya seru,, lucu..
hehe..

Deden Permayana mengatakan...

mau nupang tanya nih,,,
perizinan untuk naik ke gunung ciremai susah gak,,,
terus apa aja syarat - syarat nya supaya dapat izin,,,
mau naik ke sana juga sob,,,
ditunggu yaa,,,
tolong kirim ke email jawabannya sob,,,

odoy_nonformal@yahoo.com